Sabtu, 13 Juli 2013

HORMON KORTIKOSTEROID

Hormon kortikosteroid merupakan golongan hormon steroid yang diproduksi di korteks adrenal. Hormon kortikosteroid terlibat dalam sistem fisiologis seperti respon stres, respon kekebalan tubuh dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat, katabolisme protein, kadar elektrolit darah dan perilaku.
Sehingga hormon kortikosteroid sering digunakan untuk gejala udem, alergi, rematik dan penyakit lupus baik digunakan sebagai obat tunggal atau dikombinasi dengan obat lainnya.
Hormon kortikosteroid dibagi dua, antara lain:
  1. Glukokortikoid :
kortisol/hidrokortison. Hormon ini mengendalikan karbohidrat, metabolisme protein, dan antiinflamasi dengan mencegah pelepasan fosfolipid, menurunkan aksi eosinofil dan mekanisme lainnya.
  1. Mineralokortikoid :
aldosteron, kortikosteron, desoksikorton. Hormon-hormon ini mempengaruhi metabolisme garam dan air
Golongan kortikosteroid :
  1. Hidrokortison.
  2. Prednison: prednison, metilprednisolon, budesonida.
  3. Derivat 9-alfa-flour: triamsinolon, deksametason, betametason, halsinonida.
  4. Derivat 6-alfa-flour: fluokortolon, flunisolida
  5. Derivat diflour: fluosinonida, flumetason, diflukortolon, flutikason.
  6. Derivat klor: beklometason, mometason.
  7. Derivat klor-flour: klobetasol, klobetason, fluklorolon, halometason.
Kortikosteroid memiliki khasiat farmakologis berikut:
  1. Efek antiradang (inflamasi) berdasarkan efek vasokontriksi.
  2. Daya imunosupresif dan antialergi.
  3. Peningkatan glukoneogenesis. Pembentukan glukosa distimulasi, penyimpanannya sebagai glikogen ditingkatkan.
  4. Efek katabol, yaitu merintangi pembentukan protein dari asam-asam amino, sedangkan pengubahannya ke glukosa dipercepat.
  5. Pengubahan pembagian lemak. Umumnya penumpukan lemak di atas tulang selangka dan muka yang menjadi bundar (moon face).
Hormon Glukokortikoid
Regulasi kortisol dipengaruhi oleh hormon ACTH yang disekresi oleh hipofisis. ACTH ini merangsangsekresi kortisol. Sedangkan sekresi ACTH sendiri diatur oleh CRF/CRH (Corticotropin ReleasingFactor/Hormone dari hipotalamus. ACTH ini mengaktifkan sel adrenokortikal untuk memproduksisteroid melalui peningkatan siklik adenosin monofosfat (cAMP). Kortisol ini apabila berlebih mempunyaiumpan balik negatif terhadap sekresi ACTH dan CRF yang masing-masing mengarah pada hipofisis danhipotalamus agar sekresi CRF, ACTH, dan kortisol kembali menjadi normal Pengaruh glukokortikoid pada metabolisme karbohidrat dan proteinGlukokortikoid meningkatkan kadar glukosa darah sehingga merangsang pelepasan insulin danmenghambat masuknya glukosa ke dalam sel otot. Peningkatan produksi glukosa ini diikuti olehbertambahnya ekskresi nitrogen, dimana hal tersebut menunjukkan terjadinya katabolisme proteinmenjadi karbohidrat. Glukokortikoid juga merangsang lipase yang sensitif dan menyebabkan lipolisis.Peningkatan kadar insulin merangsang lipogenesis dan sedikit menghambat lipolisis sehingga hasilakhirnya adalah peningkatan deposit lemak, peningkatan pelepasan asam lemak, dan gliserol ke dalamdarah.Hormon ini juga menyebabkan glukoneogenesis di perifer dan hepar. Di perifer steroid mempunyai efekkatabolik. Efek katabolik inilah yang menyebabkan terjadinya atrofi jaringan limfoid, pengurangan massa jaringan otot, terjadi osteoporosis tulang (pengurangan matriks protein tulang yang diikuti olehpengeluaran kalsium), penipisan kulit, dan keseimbangan nitrogen menjadi negatif. Asam aminotersebut dibawa ke hepar dan digunakan sebagai substrat enzim yang berperan dalam produksi glukosadan glikogen.Dalam hepar glukokortikoid merangsang sintesis enzim yang berperan dalam proses glukoneogenesisdan metabolisme asam amino, antara lain peningkatan enzim fosfoenolpiruvat-karboksikinase, fruktosa-1,6-difosfatase, dan glukosa 6-fosfatase, glikogen sintetase yang mengkatalisis sintesis glukosa (efek inimmebutuhkan waktu). Efek yang timbul lebih cepat adalah pengaruh hormon terhadap mitokondirahepar, yaitu terjadi sintesis piruvat karboksilase sebagai katalisator pembentukan oksaloasetat. Inimerupakan reaksi permulaan sintesis glukosa dari piruvat.Pengunaan glukokortikoid untuk jangka lama dapat menyebabkan peningkatan glukagon plasma yangdapat merangsang glukoneogenesis. Keadaan ini dapat pula merupakan salah satu penyebab bertambahnya sintesis glukosa. Peningkatan penyimpanan glikogen di hepar setelah pemberianglukokortikoid diduga sebagai akibat aktivasi glikogen sintetase di hepar.Pada metabolisme protein, glukokortikoid mengurangi penyimpanan protein dalam semua sel tubuhkecuali hati. Ini disebabkan karena berkurangnya pembentukan protein dan bertambahnya katabolisme dalam sel.
Sedikitnya 95% aktivitas glukokortikoid dari sekresi adrenokortikal merupakan hasil dari sekresi kortisol, yang dikenal juga sebagai hidrokortisol. Namun, sejumlah kecil aktivitas glukokortikoid yang cukup penting diatur oleh kortikosteron.
Efek kortisol terhadap metabolisme karbohidrat adalah sebagai berikut:
 1) perangsangan glukoneogenesis dengan cara meningkatkan enzim terkait dan pengangkutan asam amino dari jaringan ekstrahepatik, terutama dari otot; 2) penurunan pemakaian glukosa oleh sel dengan menekan proses oksidasi NADH untuk membentuk NAD+
3) peningkatan kadar glukosa darah dan “Diabetes Adrenal” dengan menurunkan sensitivitas jaringan terhadap insulin.
Efek kortisol terhadap metabolisme protein adalah sebagai berikut:
1) pengurangan protein sel;
2) kortisol meningkatkan protein hati dan protein plasma; dan
3) peningkatan kadar asam amino darah, berkurangnya pengangkutan asam amino ke sel-sel ekstra hepatik, dan peningkatan pengangkutan asam amino ke sel-sel hati. Jadi, mungkin sebagian besar efek kortisol terhadap metabolisme tubuh terutama berasal dari kemampuan kortisol untuk memobilisasi asam amino dari jaringan perifer, sementara pada waktu yang sama meningkatkan enzim-enzim hati yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek hepatik.
Efek kortisol terhadap metabolisme lemak adalah sebagai berikut:
 1) mobilisasi asam lemakakibat berkurangnya pengangkutan glukosa ke dalam sel-sel lemak sehingga menyebabkan asam-asam lemak dilepaskan; dan
2) obesitas akibat kortisol berlebihan karena penumpukan lemak yang berlebihan di daerah dada dan kepala, sehingga badan bulat dan wajah “moon face”, disebabkan oleh perangsangan asupan bahan makanan secara berlebihan disertai pembentukan lemak di beberapa jaringan tubuh yang berlangsung lebih cepat daripada mobilisasi dan oksidasinya.
Selain efek dan fungsi yang terkait metabolisme, kortisol penting dalam mengatasi stres dan peradangan karena dapat menekan proses inflamasi bila diberikan dalam kadar tinggi, dengan mekanisme menstabilkan membran lisosom, menurunkan permeabilitas kapiler, menurunkan migrasi leukosit ke daerah inflamasi dan fagositosis sel yang rusak, menekan sistem imun sehingga menekan produksi limfosit, serta menurunkan demam terutama karena kortisol mengurangi pelepasan interleukin-1 dari sel darah putih. Kortisol juga dapat mengurangi dan mempercepat proses inflamasi, menghambat respons inflamasi pada reaksi alergi, mengurangi jumlah eosinofil dan limfosit darah, serta meningkatkan produksi eritrosit, walaupun mekanismenya yang belum jelas.
Hormon glukokortikoid mempunyai mekanisme kerja seluler sebagai berikut:
 1) hormon masuk ke dalam sel melalui membran sel;
2) hormon berikatan dengan reseptor protein di dalam sitoplasma;
3) kompleks hormon-reseptor kemudian berinteraksi dengna urutan DNA pengatur spesifik, yang disebut elemen respons glukokortikoid, untuk membangkitkan atau menekan transkripsi gen; dan
4) glukokortikoid akan meningkatkan atau menurunkan transkripsi banyak gen untuk mempengaruhi sintesis mRNA utnuk protein yang memperantarai berbagai pengaruh fisiologis.
Regulasi kortisol dipengaruhi oleh hormon ACTH yang disekresi oleh hipofisis. ACTH ini merangsang sekresi kortisol. Sedangkan sekresi ACTH sendiri diatur oleh CRF/CRH (Corticotropin Releasing Factor/Hormone) dari hipotalamus. ACTH ini mengaktifkan sel adrenokortikal untuk memproduksi steroid melalui peningkatan siklik adenosin monofosfat (cAMP). Kortisol ini apabila berlebih mempunyai umpan balik negatif terhadap sekresi ACTH dan CRF yang masing-masing mengarah pada hipofisis dan hipotalamus agar sekresi CRF, ACTH, dan kortisol kembali menjadi normal (Guyton and Hall, 2007).
Berlawanan dengan aldosteron, kortisol pada keadaan tertentu dapat menyebabkan retensi Na+ dan meningkatkan ekskresi K+, tetapi efek ini jauh lebih kecil daripada aldosteron. Hal ini disebabkan karena kortisol dapat menambah kecepatan filtrasi glomeruli; selain itu kortisol juga dapat meningkatkan sekresi tubuli ginjal (Gunawan et.al, 2007).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar